Renungan Hari Rabu, 24 September 2026, PW Santo Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Imam

weismeralda@gmail.com 23-Sep-2026 08:06:22

Bacaan 1: Kitab Amsal 30:5-9
Bacaan Injil: Lukas 9:1-6

SERAHKAN SEPENUHNYA PADA TUHAN

Hari ini, Gereja mengajak kita untuk memperingati Santo Padre Pio, seorang mistikus yang menerima stigma (luka-luka Kristus). Dua bacaan hari ini membawa kita untuk belajar dari Padre Pio yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi dan menjalani pelepasan yang radikal. Bacaan pertama dari Kitab Amsal memuat perkataan Agur bin Yake sebagai ungkapan doa yang sangat mendalam.

Dalam Kitab Amsal 30:5-9, Agur tidak meminta kekayaan maupun kemiskinan, melainkan ia mengakui keterbatasannya di hadapan Allah. Bagi Agur, kekayaan dapat meninabobokkan batinnya dan membuatnya merasa “cukup” dan mandiri yang ujung-ujungnya memicu pendangkalan rohani hingga lupa mensyukuri bahwa segala berkat berasal dari Tuhan (Amsal 30:9a, “Jangan sampai aku kenyang, lalu menyangkal-Mu, dan berkata: Siapa Tuhan itu?”). Sebaliknya, kemiskinan yang ekstrim dapat memicu keputusasaan yang berujung pada dosa, yaitu mencuri dan mencemarkan nama Allah (Amsal 30:9b: “Atau kalau aku miskin, lalu mencuri dan mencemarkan nama Allahku.”). Melalui permohonan dalam Amsal 30:9 ini, Agur mengajak kita untuk tidak hidup dalam ilusi keamanan materi, melainkan bersandar penuh pada pemeliharaan Allah setiap hari.

Sikap berserah bukan sikap berpasrah. Sikap berserah menuntut kepercayaan yang disertai tindakan nyata, sedangkan sikap berpasrah hanya berwujud pelepasan diri yang pasif dan acuh tak acuh. Allah tidak menghendaki sikap berpasrah dari kita. Makna berserah yang sejati digambarkan secara jelas dalam Injil Lukas 9:1-6. Yesus memberikan perintah sebagai mandat pelepasan radikal kepada kedua belas murid-Nya. Ia mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang dengan berpesan, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” Melalui perintah ini, Yesus meminta murid-murid-Nya untuk percaya penuh pada kuasa-Nya sebagai bekal sejati dalam pewartaan Kerajaan Allah di mana pun mereka berada.

Pernahkah Anda merasa benar-benar tidak berdaya, namun justru di situlah Tuhan bekerja? Saya mengalaminya saat menjadi volunter di pedalaman Kalimantan Selatan. Dalam perjalanan menuju Wayu Wanin, sang Pastor meminta kami tidak membawa bekal makanan agar tidak memberatkan langkah. Saya yang awalnya ragu, akhirnya menurut. Nyatanya, medan hutan yang menanjak dan sungai yang harus diseberangi sangat menguras tenaga. Di tengah hari yang terik dan perut yang lapar, saya melihat sebuah rumah sederhana. Dengan sisa keyakinan yang ada, saya memberanikan diri meminta pertolongan. Tanpa diduga, sang ibu di rumah itu dengan tulus memberi kami makanan. Saat itulah saya sadar: pelepasan radikal bukan berarti nekat, melainkan berani melangkah tanpa "pengaman" duniawi, karena saya tahu siapa yang berjalan bersama kami.

Padre Pio menghidupi Injil hari ini secara nyata. Ia tidak mengumpulkan harta; selnya kosong dan jubahnya lusuh. Ketika Tuhan mengutusnya membangun rumah sakit Casa Sollievo della Sofferenza, ia tidak memiliki uang sepeser pun. Namun, ia tidak mengemis, melainkan membiarkan Tuhan sendiri yang menggerakkan hati para dermawan untuk membiayainya. Bagi Padre Pio, "tidak membawa apa-apa" berarti mengosongkan diri dari ego, sehingga ia bisa berkata, "Aku hanyalah seorang frater yang berdoa." Justru dalam kekosongan itulah Tuhan bekerja secara ajaib melaluinya.

Mari, mulai sekarang kita senantiasa menyadari akan kerapuhan dan kelemahan diri kita. Seringkali, kita datang kepada Tuhan dengan memikul "ransel" yang berat: penuh dengan kekhawatiran, ambisi, dan keinginan untuk mengontrol segala sesuatu. Hari ini, Yesus berbisik kepada kita: "Lepaskan ransel itu. Biarlah Aku yang menjagamu."

Tuhan Yesus Memberkati kita.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati