Garam Dunia dan Terang Dunia Selasa, 9 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan X

weismeralda@gmail.com 09-Jun-2026 07:48:23

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

***

Yesus tidak berkata, “Jadilah garam,” atau “Cobalah menjadi terang.” Ia berkata dengan tegas, “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia.” Artinya, setiap orang yang percaya kepada Kristus mendapat panggilan untuk memberi rasa, memberi kehidupan, dan membawa terang bagi sesama. Namun, pertanyaannya: Apakah hidup kita sungguh menghadirkan terang? Ataukah kita justru ikut menambah gelap hidup orang lain?

Garam itu kecil, tetapi kehadirannya mengubah rasa. Tanpa garam, makanan terasa hambar. Begitu juga hidup manusia tanpa kasih, tanpa Tuhan, dan tanpa ketulusan. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi hatinya kosong. Banyak orang tertawa, tetapi sebenarnya sedang lelah menghadapi hidup. Dunia hari ini dipenuhi kecemasan, kebencian, persaingan, dan luka batin. Dalam keadaan seperti itulah Tuhan memanggil kita untuk menjadi garam, dalam arti menghadirkan kebaikan sederhana yang mungkin kecil, tetapi mampu menguatkan hidup orang lain.

Masalahnya, banyak orang perlahan-lahan kehilangan “rasa” dalam hidup rohaninya. Hati menjadi dingin. Doa menjadi sekadar rutinitas. Datang ke gereja hanya karena kewajiban. Kita mulai terbiasa dengan dosa, terbiasa dengan kemarahan, terbiasa menyakiti, bahkan terbiasa hidup jauh dari Tuhan tanpa merasa bersalah lagi. Inilah yang dimaksudkan Yesus dengan garam yang menjadi tawar. Secara fisik mungkin kita hidup, tetapi jiwa kita kehilangan makna.

Yesus juga berkata, “Kamu adalah terang dunia.” Terang tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri. Terang hanya perlu hadir, dan dengan sendirinya mengusir gelap. Namun, menjadi terang itu tidak mudah, sebab terang selalu terlihat. Orang yang memilih hidup benar sering kali justru disalahpahami. Orang yang menjaga ketulusan kadang dimanfaatkan. Orang yang memilih bertahan dalam iman sering merasa sendirian.

Ada banyak orang yang diam-diam sedang berjuang mempertahankan hati baiknya di tengah luka yang terus datang. Mereka tetap tersenyum meski lelah, tetap kuat meski ingin menyerah, dan tetap mengasihi meski sering tidak dihargai. Sering kali perjuangan terbesar kita bukanlah melawan orang lain, melainkan melawan diri sendiri agar tidak berubah menjadi pahit karena keadaan.

Kadang kita berpikir bahwa menjadi terang berarti melakukan hal-hal besar. Sebenarnya tidak demikian. Sering kali terang hadir lewat hal-hal sederhana, seperti mendengarkan orang yang sedang sedih, memilih diam daripada melukai dengan kata-kata, mengampuni meski hati terluka, tetap jujur saat semua orang memilih curang, dan tetap lembut di tengah dunia yang kasar.

Yesus hari ini mengingatkan kita: Terang sekecil apa pun tetap berarti di tengah gelap. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Tuhan hanya meminta kita untuk tetap menyala, tetap menjadi pribadi yang membawa damai, tetap menjadi hati yang tidak mudah membenci, dan tetap menjadi manusia yang tidak kehilangan kasih di tengah kerasnya hidup. Kadang kita merasa bahwa hidup kita biasa saja dan tidak berarti. Namun, bisa jadi ada seseorang di luar sana yang bertahan karena kata-kata kita yang baik. Mungkin ada seseorang yang dikuatkan karena perhatian kecil yang kita berikan. Tanpa kita sadari, Tuhan memakai hidup kita untuk menjadi terang bagi orang lain.

Satu hal penting lagi: Terang sejati tidak berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari Kristus. Jika kita jauh dari Tuhan, perlahan-lahan terang itu akan redup. Karena itu, hidup rohani kita harus terus dijaga lewat doa, Ekaristi, dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Lebih dari sekadar orang-orang hebat, dunia membutuhkan lebih banyak lagi orang yang hatinya dipenuhi kasih Tuhan.

Sumber: https://www.lbi.or.id/2026/06/09/garam-dunia-dan-terang-dunia/