Renungan Hari Rabu, 17 Juni 2026, Pekan Biasa XI

weismeralda@gmail.com 17-Jun-2026 07:48:43

Bacaan 1: 2 Raja-raja 2:1, 6-14
Bacaan Injil: Matius 6:1-6, 16-18

"Tukang Kebun di Katedral Agung"
Ada sebuah kisah yang menyatukan makna dari dua bacaan hari ini. Di sebuah Gereja Katedral tua yang megah di wilayah Eropa, ada seorang tukang kebun tua yang bernama Brother Thomas. Ia sangat terampil menata dan merawat taman di halaman Gereja Katedral tersebut. Banyak jemaat yang setiap pagi datang beribadah selalu dibuat takjub akan keindahan bunga-bunga yang mekar indah di halaman tersebut. Mereka menyangka kepala biara yang menanam dan merawatnya. Kepala biara tersenyum dan berkata, “Itu bukan hasil kerja saya.” Keindahan taman Gereja Katedral membuat seorang jurnalis ingin mewawancarai “seniman di balik taman indah itu”. Ia akhirnya menemukan Brother Thomas yang sedang mengurus taman tersebut saat ia sedang mencabuti rumput liar dengan tangan dan punggung yang membungkuk. Ia bekerja jauh di sudut kebun, tanpa ada orang yang melihatnya.

“Brother Thomas,” kata jurnalis. “Mengapa Anda bekerja begitu keras di sudut yang gelap ini? Tidak ada yang melihat Anda, dan kepala biara yang mendapat pujian.” Brother Thomas tersenyum lembut, “Saya tidak menanam bunga untuk mendapat pujian, Nak. Saya menanamnya untuk doa saya bagi Tuhan yang menciptakan bunga ini. Jika saya melakukannya untuk dilihat manusia, saya akan berhenti saat matahari terbenam. Tapi karena saya melakukannya untuk Tuhan, saya melakukannya dengan sukacita, baik ada yang melihat maupun tidak. Beberapa tahun kemudian, ketika kepala biara meninggal, dewan Paroki Katedral tidak memilih biarawan yang paling pandai berpidato maupun yang paling sering tampil di depan umum. Mereka memilih Brother Thomas sebagai pemimpin baru. Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesetiaan di tempat yang tersembunyi, bukan dari pencitraan di tempat yang terang.

Kisah ini mencerminkan Elisa yang setia walaupun berada di balik layar. Kesetiaannya itulah membuat ia mendapatkan jubah kenabian milik Elia (2 Raja-raja 2:1, 6-14) dan ajaran Yesus bahwa Bapa melihat apa yang kita lakukan di tempat tersembunyi (Matius 6:1-6, 16-18). Bacaan 1 (2 Raja-raja 2:1, 6-14) mengisahkan peralihan tongkat estafet kenabian dari Elia kepada Elisa. Menurut tafsir dari Jerusalem Bible, Elisa meminta “dua bagian” dari roh Elia bukan meminta untuk menjadi lebih hebat dari Elia namun, ia meminta hak seorang anak sulung untuk mewarisi tanggung jawab dan otoritas ayahnya (Ulangan 21:17). Elisa juga menunjukkan kesetiaan dan ketekunan yang tersembunyi. Setelah Elia terangkat ke Surga, Elisa mengambil jubah (mantel) Elia dan mengikuti jejak Elia dengan membelah Sungai Yordan bukan untuk pamer kuasa, melainkan tanda bahwa “roh Elia” kini telah hinggap padanya dan mengesahkan misinya sebagai nabi Allah. Kuasa itu diberikan untuk menjalankan rencana Allah bukan untuk kemuliaannya. 

Bacaan Injil memperlihatkan Yesus yang mengkritik “kesalehan semu/palsu.” Yesus membongkar tiga pilar kesalehan Yahudi: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa dilakukan bukan untuk dilihat orang, melainkan melakukannya dengan diam-diam/tersembunyi. Yesus mengajak kita untuk masuk ke “kamar batin”. Sebuah metafora untuk hati yang paling dalam dan tersembunyi, hanya ada manusia dan Bapa-Nya. Bapa yang “melihat yang tersembunyi” memberikan jaminan bahwa kesalehan yang tulus tidak pernah sia-sia.

Benang merah dari dua bacaan hari ini, Tuhan tidak terkesan akan “pertunjukkan” agama kita. Tuhan mencari hati yang setia melakukan kebenaran bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Tetaplah setia dan tekun melakukan hal-hal kecil bahkan tidak mencari kemuliaan diri sendiri, melainkan kemuliaan Allah. Lakukanlah kebaikan tanpa mengharapkan ucapan “terima kasih” atau pujian dari orang, jadikanlah itu sebagai bentuk “puasa” dari keinginan untuk diakui, berikan persembahan rasa lelah Anda sebagai ungkapan doa di “kamar batin” Anda. Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/Sr Ingnawati