Renungan Hari Rabu, 27 Mei 2026, Pekan Biasa VIII

weismeralda@gmail.com 26-May-2026 14:58:09

Bacaan 1: 1 Petrus 1:18-25
Bacaan Injil: Markus 10:32-45

“MATA UANG” KERAJAAN ALLAH
Berkah Dalem.

Tiga hari setelah Pentakosta, masa Paskah sudah selesai dan sekarang kita masuk ke masa biasa VIII. Hari ini kita diajak pada penebusan akan Kerajaan Allah. Mungkin kita merasa lelah bekerja dan mengukur nilai diri kita dari seberapa besar “emas dan perak” (bonus, pengakuan jabatan maupun status social) yang berhasil kita kumpulkan, membawa kita pada hidup duniawi, cara hidup yang sia-sia. Bacaan 1 dari 1 Petrus 1:18-25 membawa kita pada penebusan bukan dengan menggunakan perak atau emas seperti yang terjadi di zaman kuno, yang digunakan untuk membebaskan seorang budak, melainkan dengan darah yang sangat amat mahal yaitu darah Yesus Kristus, anak domba tanpa noda dan tanpa cacat. Dalam suratnya, Petrus menegaskan kepada kita, kita telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia itu dengan darah Kristus yang diwujudkan dalam pengorbanan-Nya yang penuh kasih. Emas dan perak bagi dunia sebagai puncak pencapaian karena sesuatu yang fana dan mudah musnah, semuanya itu tidak membawa keselamatan bagi kita, namun darah berharga Yesus Kristuslah yang membawa kita pada keselamatan. Bagi Allah, penebusan kita tidak diukur dari berapa banyak “emas dan perak” yang kita dapatkan melainkan berapa banyak “emas dan perak” yang kita berikan bagi orang-orang. Membawa mereka hidup mengalami kasih Tuhan, mengalami keselamatan dari Tuhan dengan diubahkan oleh Tuhan dan menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan karena kehadiran kita.

Bacaan pertama ini sangat kontras dengan bacaan Injil dari Markus 10:32-45 yang juga mempertegas keselamatan dari Tuhan Yesus. Di Injil ini, Yesus justru membalikkan logika dunia dan menunjukkan diri-Nya yang akan menuju pada salib untuk memberikan darah-Nya yang sangat amat mahal demi penebusan dosa manusia dan keselamatan jiwa manusia. Yesus menunjukkan kepada kita, apa yang dua murid-Nya minta (Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus) yang mengarah pada tahta duniawi, bertolakbelakang dengan apa yang Yesus mau dari mereka maupun kita. Teks Markus ini menyoroti konsep “Cawan” dan “Baptisan”. Dalam tradisi Biblis, “cawan” berarti penderitaan sedangkan “tahta” berarti kekuasaan duniawi (glory) yang keduanya sangatlah bertolakbelakang. Ketika para murid berkeinginan untuk tahta (glory) -kesuksesan duniawi, justru Yesus mengarahkan mereka pada pelayanan (diakonia). Untuk menjadi yang terbesar berarti menjadi pelayan sesamanya seperti yang Yesus lakukan bagi kita.

Mari kita berani untuk membuang ego kita maupun status kita di saat berhadapan dengan orang-orang yang di bawah kita (senior – yunior). Misalnya, sekali-kali, sebagai atasan membuatkan kopi atau membantu merapikan berkas atau memberikan telinga untuk mendengar keluh kesah rekan kerja yang sedang sibuk atau sakit atau sedang mengalami masalah. Salah satu hal kecil yang bisa mengubahkan seseorang untuk mendapatkan Kembali kasih Tuhan, itulah bentuk pelayanan sebagai “emas dan perak” yang Tuhan mau kita lakukan, bukan hanya “emas dan perak” duniawi. Hal kecil yang mengubahkan itulah salah satu bentuk keselamatan bagi sesama. Itulah arti memberikan diri sebagai "tebusan" bagi ketenangan orang lain.
Tuhan Yesus Memberkati.

Doa penutup: Tuhan Yesus Kristus yang penuh kasih, kami bersyukur di hari ini, Engkau mengingatkan kami akan kasih sejati yang selalu menuntut pengorbanan. Bebaskanlah kami dari cara hidup yang sia-sia, yang mengejar penghormatan maupun materi yang fana untuk kami tinggalkan dan kami gantikan dengan keberanian meminum “cawan-Mu”, cawan pelayanan-Mu untuk sesama di dalam hidup kami. Berikanlah kami kerendahan hati untuk mau melayani sesama kami, menjadi saluran berkat yang membawa sesama kami bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Sumber: https://web.whatsapp.com/Sr Ingnawati