Renungan Hari Rabu, 29 Juli 2026, PW Santa Marta, Santa Maria dan Lazarus

weismeralda@gmail.com 29-Jul-2026 07:55:58

Bacaan 1: 1 Yohanes 4:7-16
Bacaan Injil: Yohanes 11:19-27

KASIH YANG MELAYANI, IMAN YANG MENGHIDUPKAN

Hari ini merayakan peringatan wajib tiga bersaudara dari Betania yang sangat dekat dengan Yesus yang mewakili tiga dimensi Kristiani yang utuh. Marta yang mewakili aksi/kasih yang melayani, Maria menjadi pribadi yang mewakili kontemplasi/kasih yang mendengarkan dan Lazarus yang mewakili persahabatan yang dipulihkan dari maut.

Dalam sebuah keluarga, di saat salah satu anggota keluarga ada yang sakit parah, misalkan ayah sakit Kanker stadium 4, seluruh keluarga akan merawatnya. Ada yang bertindak sebagai Marta yang dengan sabar membersihkan, menyuapi, dan mengganti pakaian. Kasih yang terwujud dalam tindakan nyata walaupun kasih yang “lelah” dalam merawat ayah, tetap memberikan pelayanan dengan tulus, sabar dan kasih.

Bagaimana dengan Maria? Ditengah kesibukan merawat, ada salah satu anggota keluarga, hadir dengan setia duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangan sang ayah dan berdoa dalam keheningan. Ini adalah kasih yang melampaui logika, hadir dalam kontemplasi (hening).

Sang ayah adalah Lazarus, walaupun fisiknya sudah mengalami kemunduran yang perlahan “menuju kematian”, keluarganya tidak putus asa. Mereka merawatnya dengan martabat, dengan kasih dan mereka memiliki iman dan pengharapan seperti Marta: bahwa hidup tidak berakhir di sini, dan kasih mereka melampaui batas maut.

Marta, Maria dan Lazarus dalam bacaan Injil hari ini (Yohanes 11:19-27) menunjukkan kepada kita bahwa menjadi Kristen berarti mengasihi dengan tangan yang melayani (Marta), hati yang berdiam dalam hening (Maria), dan harapan yang teguh meski menghadapi kematian (Lazarus), berkaitan dengan bacaan pertama dari 1 Yohanes 4:7-16 yang mengajarkan kepada kita, Kasih adalah Bahasa Allah dan bacaan Injil (Yohanes 11:19-27) mengajarkan kepada kita, Iman pada Yesus yang bangkit adalah fondasi dari kasih tersebut. Yohanes tidak sekadar mengatakan “Allah memiliki kasih” melainkan “Allah adalah kasih” itu sendiri. Kasih bukan sekadar atribut, melainkan esensi dari Allah. Kasih adalah “uji empiris” dari kehadiran Roh Allah. Kita tidak bisa mengklaim memiliki pengalaman mistis tentang Allah kalau kita tidak mengasihi sesama dan memanusiakan manusia. Pengalaman mistis akan Allah, membawa kita pada Kasih yang melayani, Iman yang mnghidupkan.

Kisah Marta, Maria dan Lazarus dari Betania menginspirasi seorang profesor dan filsuf Katolik asal Kanada, namanya Jean Vanier. Tergerak oleh kasih, ia membeli sebuah rumah tua di Trosly-Breuil, Perancis dan menamakan rumah tersebut “L’Arche” sebagai rumah untuk melayani mereka yang sakit (disabilitas) menjadi rumah untuk tempat perlindungan seperti Betania. Jean Vanier mengundang dua pria yang mengalami disabilitas intelektual dan mental untuk tinggal bersamanya yang akhirnya menjadi sebuah gerakan yang memiliki ratusan komunitas di seluruh dunia. Jean dan para relawan hidup seperti “Marta” dengan melayani kebutuhan sehari-hari dengan penuh sukacita, “Maria” duduk mendengarkan hati mereka yang sering kali tidak bisa berbicara dengan kata-kata, dan “Lazarus” adanya martabat Ilahi dalam diri setiap orang yang terluka diperlakukan dengan kasih dan memanusiakan manusia. Saat melayani mereka yang dianggap “mati” oleh dunia, namun dalam komunitas Jean Vanier menemukan bahwa justru disitulah ia mengalami “Kebangkitan dan Hidup” yang dijanjikan Yesus kepada Marta.

Bahan permenungan:
- Sebagai Marta: Apakah saya melayani keluarga, rekan kerja, atau lingkungan saya dengan sukacita, atau hanya sebagai beban? Apakah kasih saya nyata dalam tindakan, atau hanya di bibir saja?
- Sebagai Maria: Apakah saya meluangkan waktu untuk “duduk di kaki Tuhan” dan mendengarkan-Nya di tengah hiruk pikuk tugas saya?
- Sebagai lazarus: ketika saya menghadapi “kubur” dalam hidup saya (kegagalan, penyakit, kehilangan), apakah saya tetap berani mengucapkan, “Ya Tuhan, saya percaya Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup”.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sr-ingnawati