“Ketaat Sebagai Hidup dan Identitas” 4 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan III Prapaskah
weismeralda@gmail.com
10-Mar-2026 08:51:01
Renungan Hari Rabu, 4 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan III Prapaskah
Bacaan 1: Ulangan 4:1,5-9
Bacaan Injil: Matius 5:17-19
“Ketaat Sebagai Hidup dan Identitas”
Berkah Dalem,
Alkisah, ada seorang arsitek mendapatkan proyek membangun jembatan besar di sebuah lembah. Arsitek ini bertanggungjawab penuh dengan memastikan setiap baut kecil dan setiap campuran beton sesuai dengan spesifikasi teknis. Hal itu dianggap terlalu berlebihan oleh rekan-rekan arsitek lainnya yang melihatnya dan berkomentar, “Toh, yang penting jembatannya jadi”. Arsitek tersebut menjawab, “Jembatan ini akan menahan beban ribuan orang. Jika satu baut kecil saja tidak terpasang dengan benar, bisa mengakibatkan jembatan runtuh di saat ada badai.” Jembatan yang dibangunnya terbukti tetap berdiri kokoh meski diterjang badai topan selama bertahun-tahun. Kekuatan jembatan itu bukan hanya pada desain megahnya, tetapi pada kesetiaan/ketaatan arsitek tersebut terhadap hal-hal kecil.
Bacaan hari ini, Ulangan 4:1,5-9, Musa mengingatkan Bangsa Israel untuk melakukan ketetapan dan peraturan yang diperintahkan oleh Tuhan dengan setia. Ketaatan di sini bukan sebagai beban prosedural, melainkan sebagai jalan hidup (to live) yang membawa kita pada kebijaksanaan dan “navigasi” kehidupan. Hukum yang diberikan oleh Allah kepada Bangsa Israel sebagai sumber identitas mereka sebagai bangsa kepunyaan Allah. Ketaatan pada hukum Tuhan menjadikan ketetapan sebagai hikmat dan kedekatan Tuhan, menjadikannya bangsa yang dipandang bangsa yang bijak oleh bangsa-bangsa lain. Ketaatan membawa Tuhan “dekat” setiap kali mereka datang berseru kepada-Nya. Ketaatan sebagai cara Bangsa Israel menyatakan kehadiran Allah di tengah dunia.
Injil hari ini, matius 5:17-19, Yesus memberikan penegasan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya (to fulfill). Menggenapi yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah membawa hukum tersebut kembali ke “pusat hati” yaitu Allah sendiri. Dalam Taurat dikatakan “Jangan Membunuh”, Yesus menggenapinya dengan “Jangan Membenci” yang mengarah pada Kerajaan Surga. Yesus membawa hukum Taurat kepada tujuan Allah yaitu kasih dan Yesus memberikan “jiwa” dan makna yang utuh terhadap hukum Taurat tersebut. Ketaatan kita melakukan perintah Allah menunjukkan integritas iman kita. Hal ini menjadikan hubungan kita dengan Kerajaan Surga tampak dengan kita menghargai dan menjalankan kehendak Allah.
Ketaatan terhadap hal-hal kecil dalam dunia kerja yang terlihat sepele justru itu yang menentukan karakter kita di hadapan Tuhan. Contohnya: mengikuti aturan keselamatan kerja dengan mengingatkan rekan kerja untuk memakai APD dengan benar sebagai bentuk nyata dari penggenapan hukum kasih yaitu menjaga keselamatan jiwa sesama. Memeriksa kondisi kendaraan yang digunakan dalam proses produksi, mengelola limbah sesuai prosedur lingkungan dan menjalankan standar lingkungan, hal-hal ini sebagai bentuk ibadah menjaga kelestarian ciptaan Tuhan untuk generasi mendatang.
Hidup kita seperti jembatan yang memerlukan baut kecil dan campuran beton yang sesuai takaran, begitu juga hidup kita, dengan melakukan perintah-perintah Tuhan dalam hal yang terkecil sekalipun berarti kita menjaga agar jiwa kita tetap kuat dan kokoh menyatu dengan Tuhan. Ketaatan kita sebagai bentuk sikap bijak kita yang mau menjadi “jembatan” yang menghubungkan dan membawa sesama pada kasih Tuhan. Di masa Prapaskah ini, mari kita bertanya: “Sudahkah saya merawat kehendak Allah dalam hal-hal kecil di hari ini? Bagaimana saya merawatnya?” Tuhan Yesus Memberkati.
