Renungan Hari Rabu, 26 Agustus 2026, Pekan Biasa XXI

weismeralda@gmail.com 26-Aug-2026 07:35:06

Bacaan 1: 2 Tesalonika 3:6-10, 16-18
Bacaan Injil: Matius 23:27-32

IMAN yang NYATA dalam TINDAKAN

Quote dan refleksi dari eKatolik hari senin, 24 Agustus 2026, Yesus mengenal Bartolomeus sebagai seorang yang tidak memiliki kepalsuan. Dihadapan Tuhan, kejujuran hari lebih berharga daripada citra yang sempurna. Refleksi: Kita bisa memilih foto terbaik, menyusun kata-kata dengan hati-hati, lalu menampilkan versi diri yang ingin dilihat orang lain. Namun, tidak ada citra yang perlu dipertahankan di hadapan Yesus. Tuhan tidak menunggu versi terbaik yang sudah kita rapikan. Ia menginginkan diri kita yang sebenarnya: dengan iman yang masih bertumbuh, keraguan yang belum selesai, dan hati yang bersedia dibentuk. Di hadapan-Nya, kamu tidak perlu berpura-pura.

Bacaan Injil hari ini, Matius 23:27-32, berbicara tentang iman yang nyata dalam tindakan. Santo Yohanes Maria Vianney, salah satu Santo favorit saya. Berasal dari Lyon, Perancis yang kontras antara “tampilan luar” dan “kemurnian hati”. Yohanes Maria Vianney dinilai “bodoh” karena ia kesulitan mempelajari teologi dan filsafat dalam bahasa Latin. Penampilannya juga kumal, tidak karismatik, dan ia sering dianggap sebagai “petani desa” yang tidak pantas menjadi imam. Jika kita melihat “luarnya”, ibaratnya ia seperti kuburan yang tidak dilabur putih (Matius 23:27), tidak menarik dan penuh kekurangan. Ia ditahbiskan dan dikirim ke paroki kecil di Ars yang kondisinya sangat buruk. Umat jarang ke gereja, suka berjudi bahkan mabuk-mabukan. Meskipun kondisi umatnya seperti itu, ia tetap menerima dan tidak mempedulikan penampilan luar mereka.

Dengan memurnikan hatinya melalui doa dan kasih, ia berpuasa, menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di dalam ruang pengakuan dosa, mendengarkan umatnya dengan kasih yang luar biasa. Disinilah ia membawa umatnya merasakan kehadiran Tuhan yang murni dari hatinya, perhatiannya, dan kasihnya yang tulus. Yesus menegur ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang lebih menekankan pada intelektual dan penampilan yang memukau tapi tidak memiliki hati yang murni. Justru Yohanes Maria Vianney menunjukkan intelektual dan fisik yang “biasa saja”, namun hatinya menjadi “Bait Suci” yang hidup dan penuh kasih.

Bacaan pertama 2 Tesalonika 3:6-10, 16-18, Santo Paulus sedang menghadapi masalah dengan jemaat di Tesalonika yang menganggap bahwa “kiamat” atau kedatangan Tuhan sudah dekat sehingga mereka berhenti bekerja. Keadaan inilah yang ditegur oleh Paulus. Bagi Paulus, “tradisi” bekerja yang ia ajarkan bukan sekadar aturan, tapi menjadi gaya hidup. Bekerja sebagai bentuk tanggung jawab kasih dan tidak boleh menjadi beban bagi orang lain dengan bermalas-malasan dengan alasan “menunggu Tuhan”. Karena hal inilah, Paulus memberikan penekanan, “Barang siapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (ayat 10). Paulus menekankan pada iman yang benar itu produktif, bukan parasit. Disinilah cara kita bekerja adalah cara kita berdoa. Bekerja dengan jujur dan tulus, itu berarti kita sedang memuliakan Tuhan. Namun jika kita bekerja hanya untuk “citra” atau terlihat saleh saja, berarti kita sedang menipu diri sendiri.

Hari ini, liturgi mengajak kita untuk melihat dua hal yang tampak berbeda namun sebenarnya saling berkaitan yakni: kerja keras sebagai bentuk tindakan nyata dan kebersihan hati sebagai bentuk niat tulus. Tuhan tidak terkesan dengan “cat putih” yang kita oleskan pada hidup kita. Tuhan tidak mencari umat yang terlihat sempurna di mata manusia, namun ia mencari hati yang hancur, murni, dan penuh kasih. Mari, kita berhenti menjadi “kuburan yang dilabur putih” dan tidak mengikuti arus dunia. Mari kita buka hati untuk membiarkan Tuhan membersihkan “tulang belulang” dosa, kesombongan, dan kemunafikan dalam batin kita. Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kasih kita bertumbuh, sehingga hidup kita bukan sekadar pertunjukkan rohani, melainkan cerminan nyata dari hati Allah sendiri.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati