HARI RAYA KABAR SUKACITA, Renungan Hari Rabu, 25 Maret 2026

weismeralda@gmail.com 25-Mar-2026 08:53:38

Renungan Hari Rabu, 25 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan V Prapaskah, HARI RAYA KABAR SUKACITA
Bacaan 1: Yesaya 7:10-14; 8:10b
Bacaan II: Ibrani 10:4-10
Bacaan Injil: Lukas 1:26-38

“FIAT” DI TENGAH BADAI DUNIA
Bulan Maret ini, sangat istimewa untuk kita sebagai umat beriman. Tanggal 19 Maret 2026 merayakan Nyepi bagi saudari-saudara kita yang beriman Hindu dan tanggal 20-21 Maret 2026 merayakan Idul Fitri bagi saudari-saudara kita yang beriman Islam di tutup dengan tanggal 29 Maret 2026 merayakan Minggu Palma memasuki Pekan Suci bagi kita, umat Katolik. Tetapi di belahan dunia lain, terutama di wilayah Timur Tengah, Eropa bahkan wilayah Asia dan Afrika yang mempengaruhi keadaan dunia terutama dalam kehidupan yang berimbas pada ekonomi, sistem politik negara bahkan sampai pada tahap religiusitas.

Yesaya 7:10-14; 8:10b dikisahkan Raja Ahas berada dalam ketakutan karena ancaman perang (koalisi Aram-Efraim) bahkan sampai meragukan Allah. Bukannya mengandalkan Allah, eh...malah justru Raja Ahas mencari perlindungan politik pada Asyur sehingga tidak percaya akan tanda “Immanuel” (Bahasa Ibrani = עִמָּנוּאֵל - ‘immānū’ēl) yang Allah berikan melalui perantaraan Nabi Yesaya. Padahal Allah sendiri yang menyuruh Ahas meminta pertanda melalui perantaraan Nabi Yesaya, tetapi malah menolak dengan alasan tidak mau mencobai Allah karena merasa kurang percaya dan malah mengandalkan Asyur (ayat 10-12). Sikap Ahas itu mendapat teguran dari Yesaya karena sudah  melelahkan hati Allah (ayat 13). Ketidakpercayaan akan “tanda” yang seharusnya ia minta pada Allah, Allah tetap memberikan “tanda” tersebut. Tanda “Immanuel” diberikan bukan karena Raja Ahas pantas mendapatkannya melainkan karena kesetiaan Allah pada janji-Nya di tengah kepanikan yang terjadi.

Ibrani 10:4-10, kurban hewan tidak lagi memadai, justru Allah menginginkan diri Yesus, anak-Nya yang tunggal untuk siap melakukan kehendak-Nya. Terjadi pergeseran akan kurban hewan dalam Perjanjian Lama untuk Allah yang tidak dapat menghapus dosa dengan kurban Kristus yang datang untuk melakukan kehendak Allah dengan mempersembahkan tubuh-Nya sendiri sebagai kurban yang sempurna sekali untuk selamanya. Menggantikan sistem kurban lama, dan menguduskan umat manusia melalui kurban tubuh-Nya, dari ritual luar menjadi ketaatan batin, membawa pada pengudusan sekali untuk selamanya.

Lukas 1:26-38, Bunda Maria memberikan jawaban “Fiat” ( Terjadilah padaku menurut perkataanmu), dalam konteks Jerusalem Bible, sapaan “Penuh Rahmat” (Bahasa Yunani = Kecharitomene – κεχαριτωμένη) menunjukkan bahwa Bunda Maria dipenuhi kekuatan Allah untuk memikul tanggung jawab besar dan berat dalam situasi sosial-politik Israel yang sedang dijajah Romawi. Respon Bunda Maria merupakan sebuah ketaatan yang menjadikannya teladan iman. Apa yang dialami oleh Bunda Maria menekankan anugerah Allah yang tidak terduga, kedaulatan Tuhan, dan peran krusial Bunda Maria dalam karya keselamatan manusia.

Hari ini, kita merayakan Hari Raya Kabar Sukacita di tengah suasana Prapaskah yang prihatin. Ketegangan terjadi di dunia saat ini menciptakan gelombang ketakutan global antara lain ekonomi yang belum pulih membuat kita merasa seperti Ahas: bagaimana dengan hari esok – cemas akan hari esok dan tergoda mencari “pegangan” yang semu.

Baru saja saudari/saudara Muslim merayakan Idul Fitri, sebuah momen kemenangan dan kembali ke fitrah, begitu juga dengan kita yang berada dalam Prapaskah V menuju Paskah, kita dipanggil untuk merenungkan makna “Kabar Sukacita” yang tentunya benar-benar membawa sukacita. Kabar Sukacita (Anunsiasi = Bahasa Latin = annuntiatio atau annuntiare) bukan janji bahwa hidup akan langsung bebas dari masalah. Mari kita belajar dari Bunda Maria, jawaban “Ya” yang berarti siap menghadapi resiko sosial dan masa depan yang gelap, namun percaya pada Immanuel (immanu = bersama kita dan El = Tuhan/Allah), Allah senantiasa menyertai kita. Sukacita sejati adalah keberanian untuk tetap menjadi saluran kasih di dunia yang penuh kebencian dan ketidakpastian. Kabar Sukacita yang kita rayakan hari ini mengajak kita untuk tidak menunggu dunia damai baru kita bersukacita melainkan kita dipanggil untuk membawa sukacita ke dalam dunia yang sedang sakit melalui ketaatan kecil kita setiap hari. Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/Sr Ignawati