
Efesus 2:1-10
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
***
Kepada jemaat Efesus, Paulus menyatakan bahwa semua orang sebenarnya telah mati karena pelanggaran dan dosa mereka. Mereka telah menyerahkan hidup dan diri mereka kepada dosa, dan hidup dalam dosa. Orang bukan Yahudi hidup dalam dosa, tetapi orang Yahudi pun demikian. Yang kedua tidak lebih baik dari yang pertama. Keduanya sama dalam hal dosa. Namun, bagaimana mungkin umat Israel, umat pilihan Allah itu, hidup dalam dosa? Ini terjadi ketika mereka hidup dalam hawa nafsu daging, dan mengikuti kehendak daging dan pikiran yang jahat. Jadi, pada dasarnya orang Yahudi dan bukan Yahudi sama-sama berada di bawah kuasa dosa.
Akan tetapi, Allah tidak membiarkan manusia binasa dalam dosa karena Ia kaya dengan rahmat dan begitu besar kasih-Nya kepada mereka. Kasih Allah yang begitu besar ini nyata dalam Kristus: Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Karena kasih-Nya yang besar ini, Allah “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita”. Kebesaran kasih Allah tampak justru karena dosa manusia. Kristus datang dan rela mati untuk manusia yang berdosa. Pendek kata, setiap orang yang berdosa adalah orang mati. Allah menghidupkan mereka dari kematian lewat penebusan Kristus.
Allah telah membangkitkan Kristus dari kematian dan mendudukkan-Nya di sisi kanan-Nya di surga. Mereka yang telah dibangkitkan dari kematian akibat dosa, juga ditempatkan di surga bersama-sama dengan Kristus. Dengan demikian, kebangkitan Kristus mendatangkan kebangkitan dan keselamatan bagi semua orang berdosa. Mengapa Allah melakukan hal ini? Paulus menjawab, “Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” Kelimpahan kasih Allah itu dinyatakan dalam karya penyelamatan Kristus. Dalam dunia manusia, orang yang melakukan kesalahan, apalagi kesalahan besar, hanya pantas mendapatkan hukuman. Orang yang demikian tidak dapat mengharapkan kasih dari orang lain. Namun, apa yang tidak dapat diharapkan oleh orang berdosa ini dianugerahkan oleh Allah. Ia dibebaskan dari dosanya dan bahkan dianugerahi kebahagiaan abadi.
Apa yang disampaikan Paulus dalam perikop ini merupakan suatu peringatan agar orang melakukan kebaikan tanpa pamrih. Maksudnya, agar orang melakukan perbuatan baik bukan supaya diselamatkan oleh Tuhan, melainkan agar ia melakukan perbuatan baik karena telah diselamatkan oleh Tuhan. Perbuatan baik yang sebenarnya adalah yang dilakukan semata-mata didasari oleh kasih Allah. Karena Tuhan telah mengasihi saya, saya mengasihi sesama saya. “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Perbuatan baik yang dilakukan untuk mendapatkan balasan hanya tampaknya saja baik, tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh baik.

