“Melihat dengan mata iman” Renungan Hari Rabu, 4 Februari 2026, Pekan Biasa IV

weismeralda@gmail.com 04-Feb-2026 08:47:52

Renungan Hari Rabu, 4 Februari 2026, Pekan Biasa IV
Bacaan 1     : 2 Samuel 24:2.9-17
Bacaan Injil: Markus 6:1-6
“Melihat dengan mata iman”
Seorang triad (pembunuh bayaran) yang bernama Teddy Hung Hon-yee bertobat dan menjadi pelayan Tuhan, membawa banyak jiwa-jiwa diselamatkan. Kehidupannya yang berwarna-warni, dengan seorang istri, empat perempuan simpanan, dan beberapa pacar membuat dirinya mengalami insomnia/susah tidur. Peristiwa yang mengubahkan kehidupan Teddy Hung dari perjumpaannya dengan seorang pendeta yang melakukan pelayanan di lapas tempat Teddy Hung menjalani masa tahanan. Pendeta itu memberikan Kitab Suci kepadanya. Bukannya dibaca tetapi dibuang dan tidak dihiraukan perkataan dari Pendeta tersebut. Hingga suatu saat, tiba-tiba Teddy Hung mengambil Kitab Suci, memegangnya erat-erat sambil berdoa, “Yesus, kalau Engkau sungguh ada dan Engkau benar-benar Tuhan, buatlah saya bisa tidur nyenyak hari ini”. Belum selesai berdoa, Teddy Hung sudah tertidur dengan nyenyak. Besok paginya, Teddy Hung kaget karena Kitab Sucinya dalam keadaan terbuka dan ada di dadanya. 
Kisah Teddy Hung mengajarkan kita untuk belajar dari kesalahan Daud (2 Samuel 24). Daud berkeinginan untuk memuaskan egonya melalui sensus bukan karena alasan administratif, tetapi untuk mengetahui seberapa besar kekuatan militernya. Ia menjadi sombong dan gagal menyadari keterbatasannya sebagai manusia (bentuk ketidakpercayaan kepada penyertaan Tuhan) yang berujung pada bencana. Namun, Daud akhirnya menyadari kesalahannya (pertobatan) dan tidak menyalahkan situasi, melainkan mengambil tanggung jawab sepenuhnya. Ia memohon agar murka Allah ditimpakan kepadanya saja, bukan kepada rakyatnya (ayat 17) sehingga belas kasih Allah kembali hadir (Mazmur 32:1-2.5-7 mencerminkan sukacita orang yang telah di ampuni dosanya dan hatinya dijaga oleh Tuhan).
Berbeda dengan Daud yang akhirnya mau menurunkan egonya dan mengakui kesalahannya, orang-orang Nazaret justru menutup hati yang merasa sudah terlalu mengenal Yesus, adanya keakraban yang keliru. Bagi mereka, Yesus hanyalah anak seorang tukang kayu sehingga mereka tidak mampu melihat kuasa Allah yang nyata di depan mereka. Akibat ketidakpercayaan itu, Yesus tidak melakukan banyak mukjizat di sana bahkan ditolak di kampung halaman-Nya sendiri (Markus 6:3) sehingga membatasi karya kasih Allah di tengah mereka.
Situasi serupa sering kali terjadi pada diri kita. Kita kesulitan mengenali kehadiran Allah karena merasa terlalu akrab, angkuh/sombong, atau terlalu sibuk. Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk membuka hati, mengenali Tuhan dalam kesederhanaan, dan melepaskan ketergantungan pada kekuatan diri kita sendiri. Di situlah kasih dan penyembuhan Allah dapat dilihat.
Contoh dalam kehidupan kita: merasa diri sebagai seorang pemimpin atau kepala keluarga yang sukses karena usahanya sendiri, demi menunjukkan kemampuannya, mengambil keputusan ceroboh yang akhirnya merugikan orang lain. Belajar dari sikap “Daud” dengan berani menyadari kesalahan, mau mengakui dan minta maaf serta memperbaiki keadaan meski harus menanggung malu. Buanglah sikap “Warga Nazaret” yang merasa diri lebih tahu, lebih senior, meremehkan nasihat orang terdekat justru membawa pada menolak suara Tuhan yang datang melalui mereka.
Tuhan tidak mengharapkan kesempurnaan. Ia mencari hati yang rendah ketika kita berbuat kesalahan dengan minta maaf dan iman yang terbuka saat Ia hadir melalui hal-hal yang sederhana. Jangan biarkan kesuksesan menjadikan kita angkuh, dan jangan biarkan status membuat kita buta akan kehadiran Tuhan.
“Kesombongan menghalangi mukjizat, kerendahan hati membuka jalan bagi belas kasih Allah.”
Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/Sr Ignawati