Pemberontakan Versus Kasih Setia Keluaran 33:1-6 Oktober 13, 2026
“Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, … Kamu akan masuk ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Namun, Aku tidak akan berjalan di antara kamu, supaya engkau tidak Kubinasakan di jalan….” (Keluaran 33:2-3)
Jika kita mengasihi seseorang, tetapi orang itu tidak tahu berterima kasih, bahkan mengkhianati kita, bagaimana perasaan kita? Kecewa? Sedih? Marah?
Kira-kira seperti itulah yang TUHAN Allah alami. Ia begitu mengasihi umat Israel. TUHAN telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. TUHAN berkenan mengikatkan diri dengan umat Israel dalam sebuah perjanjian: TUHAN menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat TUHAN. TUHAN berjanji untuk membawa Israel ke Tanah Perjanjian. Namun, apa yang mereka lakukan? Mereka tidak sabar menunggu Musa yang sedang menerima hukum dan perintah TUHAN. Hanya 40 hari 40 malam setelah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan TUHAN (Kel. 24:8), mereka memaksa Harun untuk membuat patung anak lembu emas agar mereka sembah. Bagaimana mungkin TUHAN tidak kecewa, sedih, dan marah? TUHAN menghukum para penghasut dan orang-orang yang mengikutinya. Namun, TUHAN memerhatikan permohonan Musa dan, terutama, Dia mengingat perjanjian kasih setia-Nya. Ia tetap memenuhi janji untuk membawa umat Israel masuk ke negeri yang telah dijanjikan-Nya, sekalipun TUHAN tidak lagi berjalan di antara mereka.
Bukankah kita juga memiliki ikatan perjanjian dengan Tuhan? Saat dibaptis atau mengaku percaya, pada waktu pemberkatan nikah, dan berbagai peristiwa rohani lainnya. Berapa banyak janji yang telah kita langgar? Tuhan memang setia, tetapi janganlah kita mempermainkan kesetiaan-Nya.
DOA:
Allah Yang Maha Setia, ampuni ketidaksetiaan kami. Tolong kami untuk merawat kesetiaan kami kepada-Mu. Amin.
