Renungan Hari Rabu, 1 April 2026, Hari Rabu dalam Pekan Suci
weismeralda@gmail.com
02-Apr-2026 11:52:52
Bacaan 1: Yesaya 50:4-9a
Bacaan Injil: Matius 26:14-25
“KETEGUHAN WAJAH DI TENGAH PENGKHIANATAN”
Sudah siapkah kita memasuki Tri Hari Suci dan menyambut kebangkitan Yesus Kristus mulai hari kamis sampai hari minggu? Sudah Pas-Kah hati kita turut dalam kisah sengsara dan kemenangan besar bersama Kristus?
Yesaya dalam bacaan hari ini (Yesaya 50:4-9a) menggambarkan keteguhan hati seorang “hamba yang menderita” dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang nabi, menyampaikan nubuatan tentang Mesias dan keadilan sosial bagi bangsa Israel yang tidak setia kepada Yahwe/Allah. Yesaya yang memiliki “lidah, telinga, punggung, muka, bahkan hati seorang murid” yang taat dan setia pada Allah yang mengutusnya, hamba yang memberikan dirinya secara utuh dan total kepada Allah. Ketaatannya kepada Allah ditunjukkan dalam “keteguhan/kekerasan hatinya” (ayat 7: “Aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu”) dengan setia pada misi dari Allah yang dijalankannya walaupun harus menghadapi penghinaan.
Sedangkan Yudas Iskariot (Matius 26:14-25) bertolakbelakang dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yesaya. Yudas justru “mengeraskan hati”, berkhianat kepada Yesus demi tiga puluh keping perak. Film Last Supper (Perjamuan Malam Terakhir Yesus dengan 12 murid-Nya), di meja perjamuan, malam sebelum memasuki sengsara-Nya, Yesus menunjukkan kedaulatan-Nya dan tahu siapa yang mengkhianati-Nya, namun Yesus tetap memberikan kasih, tetap mengajak Yudas Iskariot ikut bersama dalam perjamuan malam terakhir-Nya.
Terkadang kita mengalami konflik baik, entah itu dalam pekerjaan (dengan rekan kerja atau bahkan dengan atasan) atau dalam keluarga (entah dengan pasangan, anak atau dengan mertua), bukan karena dalam keluarga maupun dalam pekerjaan itu kurang adanya kasih, tetapi kita kehilangan “lidah, telinga, bahkan hati seorang murid” yang mau mendengar. Lebih cepat menanggapi/menyanggah/berbicara daripada memahami. Belajar dari Yesaya, kita praktikkan keteguhan hati seorang nabi besar, nabi Yesaya dengan mengatakan pada Tuhan, “He wakens my ear to listen like a disciple” (Dia membukakan telingaku untuk mendengarkan seperti seorang murid). Ada ungkapan, “cepat mendengar, lambat berbicara, lambat marah” dengan melatih diri untuk menyimak dan memahami keseluruhan informasi sebelum bereaksi, berpikir terlebih dahulu sebelum berkata-kata untuk menghindari kesalahan atau perkataan yang menyakiti, dan mengendalikan emosi agar tidak terburu-buru menghakimi atau marah, itulah aksi nyata mewujudkan kesetiaan dan kasih sebagai seorang murid Tuhan.
Belajar dari apa yang dilakukan Yudas Iskariot yang menjual kesetiaannya demi keuntungan finansial jangka pendek, bukannya menyesali perbuatannya seperti yang dilakukan oleh Petrus, malah memilih mengakhiri hidupnya. Kesetiaan sebagai seorang pekerja maupun bagian dalam keluarga, dengan menunjukkan integritas di atas “tiga puluh keping perak”, kita sudah membawa keteguhan wajah di tengah pengkhianatan dengan memilih jujur, berprinsip benar, tidak mengikuti arus, berarti kita sudah menunjukkan diri kita siap untuk memasuki Tri Hari Suci dan bersama-sama dengan Tuhan, turut serta dalam pesta besar yaitu pesta kemenangan dalam kebanagkitan Tuhan Yesus. Jadikanlah saat-saat dalam pekan Suci ini sebagai momen untuk introspeksi, “Apakah wajah saya tegar seperti karang untuk mencintai, ataukah hati saya sedang mencari harga untuk sebuah pengkhianatan?” Yesus tahu kelemahan dan kerapuhan hati kita, dan Yesus tetap mengundang kita ke meja perjamuan-Nya. Pas-Kah, Yesus? Tuhan Yesus Memberkati.
