Renungan Hari Rabu, 10 Juni 2026, Pekan Biasa X
weismeralda@gmail.com
10-Jun-2026 07:48:11
Bacaan 1: 1 Raja-raja 18:20-39
Bacaan Injil: Matius 5:17-19
IMAN YANG UTUH, BUKAN SEKADAR ATURAN
Hari ini, kita diajak untuk mengenal iman kita setia kepada siapa? Bacaan pertama dari Kitab Pertama Raja-raja (1 Raja-raja 18:20-39), kita diajak menonton sebuah drama besar antara pengikut Baal melawan Allah melalui Nabi Elia yang menantang 450 nabi Baal (ayat 22) bukan mengenai menunjukkan kuasa siapa yang bisa menurunkan api membakar hewan persembahan namun lebih ke arah kesetiaan pada Allah dalam teguran Elia kepada umat Israel, “Berapa lama lagi kalian berlaku timpang dan mendua hati?” (1 Raja-raja 18:21). Teguran Nabi Elia kepada umat Israel yang berlaku timpang maksudnya umat Israel sudah melakukan dosa besar yaitu melakukan Sinkretisme yaitu menyembah Yahweh dan Baal secara bersamaan. Kalau dalam dunia sekarang, menyembah Tuhan dan dukun ataupun klenik-klenik (pesugihan, kekebalan, jimat, dll) bahkan juga yang berbau tehnologi maupun materi yang mengarah pada menduakan Allah. Perjanjian Allah dengan bangsa Israel yang di mulai dari Abraham yang berlanjut ke Ishak, dan Yakub yang kemudian menjadi nama Israel (1 Raja-raja 18:31) menuntut komitmen/kesetiaan yang eksklusif (hanya khusus pada Allah) dan utuh. Dalam Perjanjian Lama, kurban selalu dalam bentuk hewan (lembu, domba) namun dalam Perjanjian Baru, digenapi dalam diri Yesus Kristus (kurban yang dilakukan sekali dan selamanya sebagai kurban yang bukan lagi dalam bentuk hewan melainkan darah Yesus Kristus) yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru.
Injil Matius 5:17-19, Yesus menegaskan, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya Hukum Taurat. Dalam Tafsir Jerusalem Bible, frasa "memenuhi hukum Taurat" merujuk pada pernyataan terkenal Yesus dalam Matius 5:17, Bahasa Yunani: πληρῶσαι τὸν νόμον (dibaca: plē-rō-sai ton no-mon), yang artinya: menggenapi, menyempurnakan, melengkapi, atau membawa sesuatu sampai pada tujuan akhirnya. Dalam konteks Alkitab, Yesus menggenapi hukum Taurat bukan berarti Ia menghapuskannya, melainkan memberikan makna sepenuhnya, menjalankannya dengan sempurna, serta menggenapi seluruh tujuan nubuatan dan moral hukum tersebut. Yesus tidak mengajak kita pada legalisme yang kaku (sekadar mengikuti aturan luaran), melainkan pada kebenaran yang melampaui ahli-ahli Taurat, maksudnya: kebenaran yang lahir dari hati yang sepenuhnya tunduk pada kasih dan kehendak Bapa.
Benang merah dari kedua bacaan hari ini yaitu sama-sama menyerukan komitmen yang utuh dan otentik. Jelas terkandung maksud Allah tidak menginginkan ibadah yang setengah-setengah atau setengah hati maupun sekadar formalitas namun, Allah menginginkan total, hati yang sepenuhnya milik Allah. Contoh yang sering terjadi dalam keluarga: Misa atau ibadah, anak-anak supaya diam, langsung di kasih HP. "Baal" dalam keluarga modern kita bukan patung batu, melainkan gawai (gadget), kesibukan karier, materi, atau validasi media sosial. Allah saat ini meminta kita sebagai orang tua, “Elia” zaman now, di dalam rumah kita sendiri, dipanggil untuk berani menegur “kepincangan” rohani dalam keluarga, membimbing dan memimpin anak-anak untuk “memenuhi” hukum kasih Allah, bukan sekadar mematuhinya karena takut di hukum. Ingat!!! Landasan dasar atau utama pembentukan karakter generasi masa depan adalah didikan dalam keluarga. Landasi iman dalam keluarga dengan berdoa bersama, mensyukuri atas berkat dan rahmat yang Tuhan berikan bagi keluarga, pasangan yang mengokohkan pernikahan dengan saling mengasihi dengan tulus, setia dan jujur, menjalin relasi intim dengan Tuhan.
Seperti api yang turun di Gunung Karmel, membakar habis kurban persembahan Elia, begitu juga kita membiarkan kasih Tuhan membakar habis segala kepura-puraan, kemunafikan, dan keegoisan di rumah kita. Ketika kita "memenuhi" hukum dari hati, aturan rumah tidak lagi terasa sebagai beban yang menindas, melainkan sebagai pagar kasih yang melindungi dan menumbuhkan iman anak-anak kita. Iman yang utuh dalam keluarga berarti menggeser fokus dari "mengontrol perilaku" menjadi "membentuk hati". Ini bukan tentang menghilangkan disiplin atau aturan rumah, tetapi tentang memastikan bahwa setiap aturan dilandasi oleh kasih, komunikasi, dan kehadiran Tuhan yang nyata, bukan oleh ketakutan atau pencitraan. Tuhan Yesus Memberkati.
