Renungan Hari Rabu, 12 Agustus 2026, Pekan Biasa XIX

weismeralda@gmail.com 12-Aug-2026 08:56:16

Bacaan 1: Yehezkiel 9:1-7; 10:18-22
Bacaan Injil: Matius 18:15-20

CORRECTIO FRATERNA (KOREKSI PERSAUDARAAN)

Seringkali kita memilih diam saat melihat orang lain berbuat salah, atau menyerah menegur mereka yang keras kepala dan sulit dinasihati. Padahal bacaan hari ini (Yehezkiel 9:1-7; 10:18-22 dan Matius 18:15-20) mengingatkan bahwa teguran itu penting. Allah justru hadir melalui teguran yang tulus untuk menuntun kita pada pertobatan, kejujuran, dan persekutuan yang sejati.

Di sebuah bengkel yang pemiliknya curang dan karyawannya takut bersuara, seorang pekerja bernama Wobbly ketahuan mencuri. Sang pemilik ingin mempermalukannya di depan umum. Namun, rekannya, Obey, memilih menegur Wobbly secara pribadi dengan penuh kasih. Bukan untuk menghakimi, melainkan merangkul. Wobbly pun menangis dan bertobat. Keesokannya, Obey membela Wobbly di depan semua orang. Ia rela memotong gajinya untuk mengganti kerugian, sekaligus berani menegur sistem upah sang pemilik yang tidak adil. Sang pemilik murka, namun ketulusan Obey menggerakkan karyawan lain untuk ikut menyuarakan kebenaran dengan damai. Hati pemilik yang keras akhirnya luluh dan ia bertobat. Obey membuktikan bahwa pemulihan tidak lahir dari "pedang" (kemarahan dan penghakiman), melainkan dari "tanda" (kebenaran, kasih, dan pengorbanan).

Bacaan pertama (Yehezkiel 9:1-7; 10:18-22), Allah mengutus Yehezkiel ke pembuangan Babel untuk menghukum dosa penyembahan berhala, menjelaskan bahwa kehancuran Yerusalem (Bait Suci) adalah wujud keadilan-Nya, serta menuntun umat yang hancur hati pada pertobatan dan pemulihan. Penghakiman Allah terbukti adil. Ia memisahkan mereka yang setia dari yang durhaka. Umat yang tetap peka dan berduka atas dosa ditandai dengan huruf “T” (taw dalam huruf Ibrani kuno yang berbentuk salib) pada dahi mereka (ayat 4). Ini bukanlah perlindungan magis, melainkan tanda kasih kerahiman dan pengenalan Allah atas milik-Nya. Meskipun Kemuliaan Allah meninggalkan Bait Suci yang telah cemar, Ia tidak meninggalkan umat-Nya. Kehadiran-Nya tidak lagi terkurung dalam satu bangunan, melainkan menjadi “portable” bahwa Allah senantiasa menyertai umat-Nya di mana pun, bahkan di tanah pembuangan.

Sedangkan bacaan Injil (Matius 18:15-20) memberikan tiga tahap correctio fraterna (koreksi persaudaraan) yakni:
1. Secara pribadi (berdua) sebagai bentuk menghormati martabat saudara, menghindari aib publik (ayat 15)
2. Dengan satu atau dua saksi (merujuk pada Ulangan 19:15) untuk menjami objektivitas (ayat 16)
3. Di hadapan jemaat ("ekklesia" adalah ἐκκλησία transliterasi bahasa Yunani = ekklēsia).

Bacaan Matius mengingatkan bahwa menegur dosa bertujuan memisahkan dosa dari pelakunya, bukan untuk menghancurkan, melainkan memulihkan. Kristus hadir di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. Teguran untuk menyadarkan sebagai tanda pengenalan Allah bekerja dan kuasa untuk "mengikat dan melepaskan". Allah tidak tinggal di gedung atau struktur yang mati karena dosa, melainkan di tengah komunitas yang berani bertobat dan jujur.

Hal ini sejalan dengan Yehezkiel: Kemuliaan Allah memang terbang meninggalkan Bait Suci yang kosong, namun Ia mengutus malaikat untuk menandai dahi mereka yang masih mampu menangisi dosa. Kristus pun tidak terikat pada bangunan fisik; Ia hadir saat kita berani merangkul saudara yang jatuh dan berkata, "Engkau telah jatuh. Bangunlah. Aku di sini." Allah tidak menuntut Bait yang sempurna, melainkan hati yang peduli. Di dunia yang kini lebih suka melakukan cancel culture, memviralkan aib, dan menghakimi, kita dipanggil menjadi pembawa "tanda" kasih. Kita hadir untuk mendampingi, menyembuhkan, dan membuktikan bahwa kita cukup mengasihi seseorang hingga berani berkata jujur demi pemulihannya.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sr-ingnawati