Renungan Hari Rabu, 15 Juli 2026, PW (Peringatan Wajib) Santo Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
weismeralda@gmail.com
15-Jul-2026 07:58:18
Bacaan 1: Yesaya 10:5-7, 13-16
Bacaan Injil: Matius 11:25-27
KAPAK YANG TAHU DIRI
Saya awali renungan hari ini dengan sebuah kisah. Ada seorang anak SMA, sebutlah namanya Bro, anak yang pintar, berprestasi dan selalu menjadi juara kelas. Ia sangat bangga dengan kecerdasannya membuatnya meremehkan teman-temannya yang kurang pintar. Begitu juga ia meremehkan adiknya yang tidak pintar seperti dirinya. Ia memandang dirinya yang lebih hebat dalam keluarganya.
Suatu hari, tiba-tiba ia mengalami kegagalan menjadi juara pertama dalam kompetisi bergengsi yang sangat ia impikan. Ia merasa bodoh, gagal, dan tidak berharga sehingga ia mengurung dirinya di kamar, menolah makan, dan menyalahkan Tuhan bahkan menganggap Tuhan tidak adil padanya. Ia mengalami kelelahan mental (burnout).
Ayahnya yang melihat keadaannya, mengetuk pintu kamarnya, meminta ijin untuk masuk dan berbicara dengannya. Dengan tersenyum sambil membawakan secangkir teh hangat, menepuk pundak anaknya dan berkata dengan suara yang lembut: “Nak, Ayah bangga punya anak sepertimu. Kamu seperti kapak yang sangat tajam dan hebat. Namun, ingatlah Nak, kapak tidak akan pernah bisa menebang pohon sendirian. Kapak baru bisa berguna, kalau ia mau diayunkan oleh Tangan yang lebih besar. Kalau kamu merasa gagal, itu karena kamu mencoba menebang pohon sendirian dengan egomu sendiri.
Sambil memeluk ayahnya, Bro merasakan kehadiran Tuhan. Bro menangis sepuasnya dan menyadari kesombongannya yang menghancurkannya. Ia sadar, ia mencoba menjadi “Tuhan” atas hidupnya sendiri yang membuatnya lelah dan jatuh. Ia mulai belajar menjadi “orang kecil”.
Bacaan hari ini mengajak kita untuk menjadi kapak yang tahu diri. Yesaya dalam bacaan pertama (Yesaya 10:5-7, 13-16) menggunakan kiasan di ayat 15: Maka beginilah firman Tuhan, “Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya? Atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? Seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya. Atau tongkat mengangkat orang yang bukan dari kayu?” Asyur yang saat itu memiliki kekuatan militer raksasa digunakan oleh Allah untuk menjadi “kapak” atau “alat” untuk menghukum bangsa Israel yang berdosa. Namun Asyur menjadi sombong. “kapak” itu lupa diri, menganggap dirinya yang hebat, tuan yang berkuasa, bukan sekadar “alat”.
Sedangkan Injil Matius 11:25-27, Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya yang menyembunyikan dari “orang bijak dan pandai” yaitu Kerajaan Allah. Yesus memperingatkan mereka yang masuk dalam golongan “orang bijak dan pandai”, mereka yang merasa tahu segalanya, yang hatinya keras oleh intelektualitasnya, tidak akan mengenali misteri Kerajaan Surga. Yesus justru menyatakannya kepada mereka “orang kecil” yang menyadari kelemahan dan keterbatasannya, sehingga mereka bergantung penuh pada kasih karunia Tuhan yang akan mengenali misteri Kerajaan Surga.
Kedua bacaan hari ini, sama-sama memberikan satu pesan: manusia yang hanyalah “kapak” akan mengalami kehancuran kalau ia melupakan bahwa ia hanyalah “kapak” (alat-Nya) yang menjadikan dirinya sebagai “Tukang Kayu”. Disinilah, manusia disadarkan bahwa ia harus kembali menjadi “anak kecil” yang bersandar pada Bapa.”
Hari ini, kita memperingati Santo Bonaventura yang adalah seorang jenius, “Pujangga Gereja”, seorang Fransiskan, Pujangga Gereja dalam bidang teologi spiritual dan mistik dikenal dengan gelar Doctor Seraphicus (Doktor Seraphim/Doktor Malaikat). Kecerdasan yang dimilikinya tidak membuatnya jauh dari Tuhan, melainkan membakarnya dengan cinta yang sederhana dan merendah seperti seorang anak kecil.
Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi orang yang paling pintar di dunia dengan nilai rapor, gaji maupun kehebatan yang dimiliki membuat lupa bahwa kita hanyalah “kapak” yang hanya bisa digunakan oleh Tangan Sang Tukang Kayu Agung. Tuhan meminta kita untuk memiliki hati yang “kecil”, hati yang tahu bersyukur dan berterima kasih, hati yang mau belajar, hati yang sadar bahwa setiap talenta yang kita miliki adalah pinjaman dari Tuhan, hati yang mau merendah dan selalu menjadi “anak kecil” dalam kehidupan kita, “anak kecil” dihadapan Tuhan.
Tuhan Yesus Memberkati.
