Renungan Hari Rabu, 18 Maret 2026
weismeralda@gmail.com
18-Mar-2026 09:03:56
Renungan Hari Rabu, 18 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan IV Prapaskah, Minggu Laetare (Minggu Sukacita)
Bacaan 1: Yesaya 49:8-15
Bacaan Injil: Matius 5:17-30
Rabu di minggu Prapaskah IV, minggu Laetare (minggu sukacita) sebagai minggu sukacita di tengah retret padang gurun. Laetare bahasa Latin yang berarti “Bersukacitalah”, dalam tradisi Gereja Katolik, mengajak ini untuk memberikan “jeda sejenak” dari suasana tobat yang ketat untuk mengingatkan kita bahwa tujuan Prapaskah bukan penderitaan semata, melainkan kemenangan Paskah yang akan segera kita alami dan rasakan bersama Yesus Kristus. Minggu Laetare dengan warna liturgi yang sebelumnya ungu menjadi merah muda yang melambangkan cahaya kebangkitan sudah mulai terlihat di ufuk timur.
Bacaan hari ini pada bacaan pertama: Yesaya 49:8-15, memberikan gambaran kasih Allah yang digambarkan seorang ibu yang tidak bisa melupakan bayinya, Allah yang tidak akan pernah melupakan kita. Minggu Laetare, kita diajak untuk bersukacita, sukacita yang bersumber dari Allah yang mencintai kita tanpa syarat. Cinta seorang ibu terhadap bayinya merupakan cinta manusiawi yang paling kuat, namun bisa juga melukai, justru cinta Allah melebihi cinta manusiawi karena Allah tidak bisa “melupakan” nama kita yang sudah terukir di telapak tangan-Nya (ayat 16). Allah mencintai kita tanpa syarat dan setia.
Sedangkan dari Bacaan Injil Matius 5:17-30, berbicara mengenai penghakiman namun juga menunjukkan kasih Allah dalam hal “keadilan” yang berarti keselarasan total dengan kehendak Allah. Yesus berhadapan dengan ahli taurat yang membuat-Nya memberikan pencerahan kepada kita akan aturan baru yang mengarah pada “maksud asli” dari Sang Pembuat Hukum yaitu Allah. Berhadapan dengan ahli Taurat yang mengarah pada ketaatan eksternal (legalisme), Yesus membawa kita pada ketaatan internal (hati). Seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam ayat 24, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia pindah dari dalam maut ke dalam hidup”, Yesus mengajak kita untuk menyadari bahwa akar dosa adalah niat. Kalau kita menghina atau menyakiti sesama berarti kita telah menyerang martabat gambar Allah dalam diri sesama kita. Yesus menghendaki kita untuk berani melakukan “mutilasi keinginan” dengan berani memutus hubungan yang mengarah pada dosa.
Contoh dalam dunia kerja maupun dalam keluarga, saat menghadapi sesama (rekan kerja atau salah satu anggota keluarga) yang melakukan kesalahan, tanpa kita sadari, kita akan mengingat kesalahan yang telah diperbuatnya. Sebagai bentuk Laetare ini: tetaplah memberikan kasih dalam bentuk memberikan pendampingan dan membantunya memperbaiki kesalahan tanpa menjatuhkan mentalnya (menyalahkan).
Sukacita Laetare dalam Prapaskah IV mengajak kita untuk mempunyai kelegaan batin karena kita mempunyai Allah yang mengasihi kita tanpa sayarat, Allah yang tidak mampu melupakan kita (Yesaya) dan Kristus yang membebaskan dari ketaatan legalisme dengan membawa kita pada kasih yang menghidupkan: ketaatan hati (Matius). Marilah kita menjalani pertobatan dengan tidak karena terpaksa melainkan karena menyadari kasih Allah yang begitu besar kepada kita, Allah yang tidak pernah melupakan kita, kasih-Nya yang membawa kita pada keselamatan. Tuhan Yesus Memberkati.
