Renungan Hari Rabu, 19 Agustus 2026, Pekan Biasa XX
weismeralda@gmail.com
19-Aug-2026 07:48:40
Bacaan 1: Yehezkiel 34:1-11
Bacaan Injil: Matius 20:1-16
KEADILAN ALLAH MELAMPAUI KALKULASI MANUSIAWI
Hari ini kita di ajak dalam permenungan tentang keadilan Allah menurut Allah bukan menurut manusia yang menggunakan keadilan dengan melihat tolok ukur, hitung-hitungan (untung rugi) dan terlebih melihat sisi luar daripada kedalaman hati. Bacaan pertama, Yehezkiel mengajak kita untuk melihat dua hal yaitu dakwaan terhadap para gembala (ayat 1-6) dan janji intervensi Allah sendiri (ayat 7-11). Ayat 1-6 diperlihatkan bahwa gelar “gembala” (רֹעֶה = ro'eh = bahasa Ibrani) yakni raja-raja Yehuda, para imam, dan pemimpin bangsa, jaman pembuangan Babel (587 SM). Yehezkiel menggunakan metafora yakni gembala (ro’eh) bukan sekadar jabatan politis, melainkan panggilan ilahi seorang gembala dalam hal menjaga, memberi makan, dan melindungi umatnya. Namun ayat 3-5, diperlihatkan gembala yang mengeksploitasi dengan mengambil keuntungan dari domba/umat (“Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan.” – ayat 3); gembala yang mengabaikan umatnya dengan tidak menguatkan yang lemah, tidak menyembuhkan yang sakit dan membalut yang luka, gembala yang menelantarkan umatnya dengan membiarkan yang tersesat dan hilang tanpa pencarian (ayat 4-5).
Sedangkan ayat 7-11, Allah tampil sebagai Gembala (ayat 11),” Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencari-nya.) Allah tidak menunggu domba-Nya kembali. Allah pergi mencari domba yang hilang (bdk. Lukas 15:4-7, perumpamaan domba yang hilang dan Yohanes 10:11, Kristus sebagai Gembala Baik). Adanya tindakan Allah, yakni: mencari (bahasa Ibrani = Darash = דָּרַשׁ), pencarian yang aktif, tekun dan penuh kasih Allah kepada umat-Nya, dalam hal ini bangsa Israel. Ini yang menunjukkan bahwa Allah adalah gembala yang baik. Di ayat 7-11 ini adalah janji intervensi Allah sendiri, Allah sendiri tampil sebagai Gembala.
Injil Matius 20:1-16, perumpamaan tuan yang empunya kebun anggur mencari pekerja di kebun anggurnya. Dalam sehari itu, tuan kebun anggur pergi untuk melakukan perekrutan pekerja. Pagi-pagi benar (mungkin sekitar jam 06:00), jam 09:00, 12:00, 15:00 dan perekrutan terakhir jam 17:00). Ini menunjukkan bahwa tuan itu tidak sekadar memerlukan tenaga kerja, namun mencari mereka yang masih menganggur (ayat 6) dan Ia tidak tega membiarkan mereka pulang dengan tangan kosong. Saat tuan kebun anggur mencari pekerja, terjadi kesepakatan upah dengan mereka yakni sebesar satu dinar sehari mulai dari pekerja gelombang pertama sampai akhir. Namun, hal itu justru menjadikan kecemburuan dan keserakahan yang ditunjukkan oleh pekerja pertama yang masuk di pagi hari. Keadilan Allah melampaui kalkulasi manusiawi. Allah memperlihatkan kebaikan hati (ayat 15) yang melampaui kontrak. Perumpamaan ini bukan tentang etika kerja maupun ekonomi, melainkan tentang sifat Allah.Allah bebas untuk bermurah hati dan kemurahan-Nya tidak mengurangi nilai siapapun.
Contoh dalam kehidupan di sekitar kita tentang dua bacaan hari ini. Dalam dunia kerja, seorang pemimpin hendaklah mau untuk meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan staf, membimbing yang masih bingung, dan merayakan keberhasilan kecil dengan pujian yang memotivasi. Inilah gembala yang bukan mengeksploitasi, melainkan yang menguatkan. Dalam keluarga, anak-anak diperlakukan kasih yang sama. Belajar dari kedua bacaan hari ini: ketika sistem manusiawi gagal, baik kepemimpinan yang korup maupun logika upah yang kaku, Allah hadir dengan cara-Nya sendiri yang penuh belas kasih dan melampaui perhitungan kita. Dua bacaan hari ini memberikan pelajaran menjadi gembala yang baik dengan peduli pada sesama (rekan kerja, pimpinan, keluarga), menjadi saluran kemurahan hati dengan mencari yang hilang, menguatkan yang lemah, turut bersukacita ketika kasih Allah menyentuh hidup seseorang.
Tuhan Yesus Memberkati.
