Renungan Hari Rabu, 28 Oktober 2026, Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul. 28 Oktober 2026

weismeralda@gmail.com 28-Oct-2026 08:05:24

Bacaan 1: Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 2:19-22
Bacaan Injil: Lukas 6:12-19

DARI PERBEDAAN MENJADI BAIT ALLAH yang KUDUS

Berkah Dalem,

Hari ini, Gereja merayakan Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, dua dari dua belas rasul pilihan Yesus (Lukas 6:12-19). Simon yang dirayakan adalah Simon orang Zelot (disebut juga Simon orang Kanaan). Adapun Yudas anak Yakobus (Lukas 6:16) adalah Yudas Tadeus (Matius 10:3), rasul yang dipilih sejak awal dan menjadi penulis Surat Yudas dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

Dalam tradisi Katolik, Santo Yudas Tadeus dihormati sebagai pelindung “masalah-masalah yang seolah-olah tanpa harapan” (hopeless cases). Ia mengajarkan bahwa tidak ada masa lalu atau nama buruk yang dapat menghalangi kasih karunia Tuhan untuk menguduskan hidup seseorang. Oleh karena itu, ia menjadi simbol dan pembawa harapan yang sejati bagi kita.

Di mata Tuhan, kesucian tidak diukur dari popularitas atau jabatan, melainkan dari kesetiaan hingga akhir. Kedua rasul ini membuktikannya dengan mewartakan Injil hingga ke Persia dan wafat sebagai martir, menjadi “batu-batu kecil” yang kokoh dalam fondasi Gereja (Efesus 2:20).

Pesta Santo Simon dan Santo Yudas mengajak kita merenungkan kuasa panggilan Allah dan mukjizat persatuan dalam tubuh Kristus. Sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus berdoa semalam-malaman kepada Bapa-Nya (Lukas 6:12). Pembentukan komunitas iman ini bukanlah kebetulan atau strategi manusia, melainkan keputusan yang lahir dari doa, kehendak, dan kasih Bapa.

Beralih ke bacaan pertama, Surat Efesus (2:19-22) menegaskan bahwa kita bukan lagi orang asing, melainkan “kawan sewarga dan anggota keluarga Allah” (ay. 19). Kristuslah 'batu penjuru' yang menyatukan kita yang berbeda bentuk dan asal-usul (ay. 20). Di dalam-Nya, label masa lalu seperti “mantan pejuang” (Simon) atau “mantan pemungut cukai” (Matius) lebur menjadi satu “bait Allah yang kudus”. Santo Simon dan Santo Yudas adalah bukti nyata kebenaran ini: dari “orang asing” dengan masa lalu kelam, mereka kini menjadi “kawan sewarga” berkat darah Kristus, Sang Batu Penjuru.

Seperti Yesus yang berdoa semalam-malaman sebelum memilih para rasul, kita diajak untuk membawa keputusan besar (pekerjaan, hubungan, pelayanan) ke dalam doa yang hening dan konsisten, bukan hanya mengandalkan logika atau emosi sesaat.

Di lingkungan kerja, paroki, atau keluarga, kita pasti bertemu dengan orang yang latar belakang politik, sosial, atau sifatnya sangat bertolak belakang dengan kita. Panggilan kita adalah melihat mereka bukan sebagai “orang asing” atau lawan, tetapi sebagai sesama “batu hidup” yang sedang dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah.

Santo Yudas Tadeus dihormati sebagai pelindung masalah-masalah yang seolah-olah tanpa harapan. Oleh karena itu, kita dapat menjadi “Yudas Tadeus” bagi sesama dengan tetap setia mendampingi teman atau keluarga yang sedang mengalami masa-masa sulit, putus asa, atau merasa tidak berharga.

Santo Simon dan Santo Yudas adalah dua “batu” yang sangat berbeda. Namun, Kristus, Sang Batu Penjuru, dengan kasih-Nya sebagai “semen” pengikat, telah memahat mereka menjadi satu kesaksian iman yang kokoh. Begitu pula saat ini, Tuhan sedang memahat kita. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan perpecahan. Izinkan kasih Kristus menyatukan kita, sehingga kita pun dapat menjadi bait-Nya yang kudus, tempat Roh Allah berdiam dengan damai.

Tuhan Yesus Memberkati.

Dibuat oleh: Sr. Maria Magdalena Tan Ingnawati Tan Djaja, Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, NIM: 256312005

Dikoreksi oleh: Romo Bobby Steven Timmerman, MSF, Dosen Kitab Suci Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati