Renungan Hari Rabu, 4 November 2026, Peringatan Wajib Santo Carolus Borromeus, Uskup

weismeralda@gmail.com 04-Nov-2026 07:32:42


Bacaan 1: Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 2:12-18
Bacaan Injil: Lukas 14:25-33

PANGGILAN MENJADI CAHAYA BAGI SESAMA

November adalah bulan arwah. Kita dipanggil untuk mendoakan keluarga dan sesama yang telah mendahului kita, serta memohon indulgensi melalui Novena Arwah (1-8 November).

Injil hari ini menyajikan tantangan keras dari Yesus: “Barang siapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengapa Yesus berkata demikian? Ia ingin pengikut-Nya tidak hanya mencari kenyamanan atau mukjizat semata. Ia menginginkan murid yang sudah “menghitung biaya” dan siap menanggung segala konsekuensinya. Yesus tidak meminta kita membenci keluarga. Ia hanya menegaskan bahwa tidak ada apa pun, baik keluarga maupun harta yang boleh menggeser tahta Allah di dalam hati kita.

Dalam Lukas 14:26,  kata “membenci” ayah dan ibu adalah idiom Semitik (gaya bahasa Timur Tengah) yang berarti “menempatkan di urutan kedua”, bukan kebencian secara harfiah. Yesus menuntut pelepasan radikal: kasih kepada-Nya harus menjadi prioritas mutlak di atas segalanya. Melalui perumpamaan orang yang membangun menara dan raja yang hendak pergi berperang (Lukas 14:28-32), Yesus menegaskan bahwa mengikuti Dia bukanlah keputusan emosional, melainkan komitmen yang dihitung dengan sadar dan siap menanggung segala konsekuensinya.

Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi bahwa keselamatan adalah anugerah yang tetap menuntut kerja sama manusia. Sikap “takut dan gentar” (Filipi 2:12) bukanlah momok, melainkan kesadaran akan kelemahan diri yang bersandar penuh pada rahmat Allah. Di tengah “angkatan yang bengkok dan sesat” (Filipi 2:15), kita dipanggil menjadi cahaya seperti bintang di langit dengan hidup tanpa bersungut-sungut. Bahkan penderitaan dan kemartiran pun dipandang Paulus bukan sebagai beban, melainkan sebagai sukacita curahan darah di atas kurban iman jemaat (Filipi 2:17).

Inilah rumus praktis “menghitung biaya” dalam iman: melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan tanpa berbantah-bantah (Filipi 2:14). Di tengah budaya yang egois, koruptif, dan mudah putus asa, kita dipanggil untuk tetap bercahaya dengan selalu berbuat baik, jujur, dan mengasihi dengan tulus, tanpa ikut-ikutan mengeluh maupun berbuat curang.

Hari ini kita memperingati Santo Carolus Borromeus, Uskup Milan abad ke-16. Meski diangkat menjadi Kardinal dan Uskup Agung di usia muda karena pengaruh pamannya (Paus Pius IV), ia tidak terbuai oleh kenyamanan. Ia “menghitung biaya” dan “melepaskan segala miliknya” dengan menjual seluruh perabotan mewahnya dan memberikannya kepada orang miskin, memilih hidup dalam kemiskinan. Ketika wabah mengerikan melanda Milan, ia tetap tinggal, merawat yang sakit, dan menghibur yang sekarat. Hingga akhir hidupnya, Ia “mengerjakan keselamatannya tanpa bersungut-sungut”.

Lalu, bagaimana kita “menghitung biaya” dan “bercahaya” di zaman sekarang ini? Ketika kita dengan sadar menolak ikut serta dalam “budaya” atau “jalan pintas” untuk mendapatkan promosi maupun kemewahan, kita mungkin akan disingkirkan atau dicap “tidak solid.” Justru di situlah kita sedang “menghitung biaya” memilih jujur demi Kristus meski rugi. Begitu juga, saat rekan kerja yang korup mendapat promosi sedangkan kita tidak, kita memilih untuk tidak mengeluh atau tidak sakit hati. Sebaliknya, kita tetap bekerja dengan sangat baik, tersenyum, dan mendoakannya. Disitulah kita “bercahaya seperti bintang di alam semesta. Suatu saat mereka akan menyadari adanya damai dan integritas dalam diri kita. Damai dan integritas itu hanya bisa berasal dari Kristus.

Tuhan Yesus Memberkati.

Dibuat oleh: Sr. Maria Magdalena Tan Ingnawati Tan Djaja, Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, NIM: 256312005

Dikoreksi oleh: Romo Bobby Steven Timmerman, MSF, Dosen Kitab Suci Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati