Renungan Hari Rabu, 5 Agustus 2026, Pekan Biasa XVIII
weismeralda@gmail.com
05-Aug-2026 07:11:17
Bacaan 1: Yeremia 31:1-7
Bacaan Injil: Matius 15:21-28
IMAN YANG MENEMBUS BATAS DAN KASIH SETIA YANG MEMULIHKAN
Pernahkah Anda merasakan kekuatan kasih seorang Ibu yang mengubahkan kehidupan anaknya? Kita mengenal Santa Monika, ibunya Santo Agustinus. Kisah Santa Monika dan Santo Agustinus adalah bukti nyata keajaiban doa seorang ibu. Meski Agustinus hidup liar dan jauh dari Tuhan, Monika tak pernah lelah berdoa dan menangis belasan tahun lamanya. Ketika ia meminta bantuan Uskup Ambrosius, sang Uskup justru memintanya untuk percaya pada waktu Tuhan. Pada akhirnya, kesetiaan Monika berbuah manis: Agustinus bertobat, berubah total, dan menjadi salah satu Santo terbesar dalam sejarah Gereja. Doa seorang ibu tidak pernah sia-sia.
Wanita Kanaan dalam Matius 15:21-28, mengajarkan kita bahwa iman seorang ibu yang gigih mampu menembus sekat apa pun. Saat Yesus merespons permohonannya dengan kata-kata yang terdengar keras, Ia tidak sedang bersikap rasis. Justru, Yesus sedang memberi pelajaran penting untuk meruntuhkan ego bangsa Yahudi yang merasa keselamatan hanya milik mereka. Iman wanita asing ini membuktikan bahwa kasih dan keselamatan Allah terbuka untuk siapa saja, tanpa tembok pemisah.
Ayat 26, makna kata “anjing” yang dikatakan oleh Yesus kepada wanita Kanaan bukanlah mengarah pada anjing liar/anjing jalanan (Bahasa Yunani = kuon = κύων) melainkan anjing kecil atau anjing peliharaan yang tinggal di dalam rumah (Bahasa Yunani = kunarion = κυνάριον). Tentunya beda antara anjing liar dan anjing peliharaan. Disinilah wanita Kanaan menangkap maksud dari kata-kata Yesus dengan menjawabnya, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing (kunarion) makan remah-remah yang jatuh dari meja tuan mereka” (ayat 27). Ia tidak menuntut hak sebagai “anak”, tetapi ia percaya bahwa “remah-remah” kuasa Tuhan saja sudah lebih dari cukup untuk mengusir setan dari anaknya. Karena iman yang melampaui batas ras dan agama inilah, Yesus memujinya, “Hai ibu, sungguh besar imanmu!” (ayat 28) sehingga terjadilah kesembuhan bagi anaknya yang kerasukan setan dan menderita.
Terkadang, tanpa kita sadari, kita merasa Tuhan “diam” dan “menolak” untuk kesembuhan penyakit, pemulihan rumah tangga, atau pekerjaan, atau ekonomi yang membuat kita kecewa, marah, dan berhenti berdoa. INGAT!!! Teruslah berdoa, jangan berhenti berdoa dan juga jangan jemu-jemunya berdoa seperti yang dilakukan oleh Santa Monika untuk Santo Agustinus. Seperti bacaan 1 (Yeremua 31:1-7), bangsa Israel sedang hancur lebur karena pembuangan di Babel, merasa seolah-olah Tuhan telah membuang mereka, justru di tengah keputusasaan, Yeremia menyampaikan sabda Tuhan, “Aku akan menjadi Allah dari segala kaum keluarga Israel” (ayat 1) yang menunjukkan kasih setia (Bahasa Ibrani = hesed/khesed = חֶסֶד). Kasih setia Tuhan membangun kembali “puteri Israel”, bahkan mereka akan kembali menari serta bersukacita. Inilah nubuat tentang harapan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya dalam “pembuangan” selamanya. Selalu ada jalan pulang dan pemulihan bagi mereka yang percaya.
Tuhan Yesus Memberkati.
