Renungan Hari Rabu, 9 September 2026, PW. S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uskup; Martir

weismeralda@gmail.com 16-Sep-2026 07:46:17

Bacaan 1: 1 Korintus 12:31-13:13
Bacaan Injil: Lukas 7:31-35 

HIKMAT dan KASIH di TENGAH BUDAYA PENGHAKIMAN
Hari ini, Gereja Katolik memperingati dua sosok yang sangat berpengaruh dalam Gereja Katolik. Santo Siprianus, Uskup Karthago sebagai salah satu Bapa Gereja yang memberikan pemikiran sakramen, pertobatan, dan kesatuan Gereja, sedangkan Santo Kornelius, Paus di tahun 251-253M, hidup di zaman yang sama dengan Santo Siprianus. Mereka bersahabat dan bekerja sama dalam melawan Skisma Novatianus yang bersikeras orang Kristen mempersembahkan kurban kepada dewa Romawi yang mengakibatkan banyak umat yang takut dan murtad. Kornelius dan Siprianus dengan penuh kasih menerima kembali orang-orang yang bertobat setelah menjalani tobat yang pantas yang ditentang oleh kekakuan hukum Gereja saat itu. Mereka sebagai tokoh besar Gereja awal, saksi iman dari era Patristik (Bapa-bapa Gereja). Kombinasi kepemimpinan Kornelius dan pemikiran teologis Sirpianus menyelamatkan kesatuan Gereja pada masa krisis tersebut.

Bacaan hari ini, bacaan pertama dari 1 Korintus 12:31-13:13, Surat Paulus kepada jemaat di Korintus mengajak kita untuk belajar tidak “mabuk” Karunia-karunia. Jemaat di Korintus saat itu sangat terobsesi dengan karunia-karunia rohani yang terlihat hebat dan spektakuler, seperti berbahasa roh, nubuat, maupun mukjizat. Mereka bahkan saling berlomba dan merasa lebih rohani berdasarkan karunia yang mereka miliki. Keadaan inilah yang justru menciptakan perpecahan, kesombongan, dan kekacauan dalam jemaat. Seperti yang sering terjadi saat politik bermain. Para calon-calon politik melakukan aksi kebaikan (blusukan, bagi sembako, bagi-bagi uang pada pengemis, dll) hanya untuk direkam, diunggah, dan mendapatkan validasi/pujian. Mereka seperti “gong yang berkumandang”, hanya menghasilkan suara yang sangat keras dan menggema, tetapi suaranya hampa, tidak memiliki melodi, dan tidak menyampaikan pesan apa pun. Tujuannya bukan kasih kepada sesama, melainkan kasih kepada diri sendiri (pencitraan).

Paulus, Kornelius, dan Siprianus memilih jalan yang tidak populer bahkan penuh resiko (Paulus beberapa kali di penjara, Kornelius dan Siprianus harus menghadapi skisma saat itu). Mereka menunjukkan kasih. Kasih yang dimaksud Paulus adalah Agape yaitu: kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, sabar, dan tidak sombong (ayat 4-7). Kasih adalah jiwa dari segala tindakan. Sama seperti tubuh tetapi tanpa napas/nyawa adalah seperti mayat, maka pelayanan yang hebat tetapi tanpa kasih adalah mayat rohani yang hanya menghasilkan “bau” dan “suara bising”, bukan kehidupan.

Sedangkan bacaan Injil, Lukas 7:31-35, Yesus mengumpamakan generasi-nya seperti “anak-anak yang duduk di pasar”, selalu protes dan tidak pernah puas. Hal itu ingin ditunjukkan oleh Yesus pada realita bahwa orang tidak akan pernah bisa memuaskan orang-orang yang memang berniat mencari kesalahan. Lukas 7:31-35 mengajarkan kita untuk tidak menjadi "anak-anak di pasar" yang rewel, dan memberi kita ketenangan hati untuk tetap melakukan kehendak Allah, meski dunia mungkin salah paham, karena kebenaran pada akhirnya akan terbukti melalui buah kasih yang kita hasilkan. Mari, kita berani memilih kasih, kesatuan, dan kerahiman dalam Gereja-Nya. Membiarkan diri kita, hidup kita untuk senantiasa membawa kasih dan hikmat Tuhan dan menghasilkan buah-buah kasih setiap hari dalam hidup kita.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: https://web.whatsapp.com/sringnawati