Tidak Ada yang Berkekurangan Selasa, 14 April 2026 – Hari Biasa Pekan II Paskah

weismeralda@gmail.com 14-Apr-2026 07:52:24

Kisah Para Rasul 4:32-37

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

***

Situasi kaum beriman setelah kebangkitan Yesus memperlihatkan kehidupan yang harmonis dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Jemaat menjual harta dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul, yang kemudian membagi-bagikannya kepada setiap orang sesuai dengan yang diperlukan. Tidak ada yang berkekurangan. Mereka sehati dan sejiwa. Tidak ada lagi yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri. Semua adalah kepunyaan bersama.

Pada zaman sekarang, terjadi pergeseran nilai secara ekstrem akibat modernisasi. Nilai komunal yang diajarkan Yesus kepada para murid telah tergeser oleh nilai-nilai individual. Sebagian besar manusia cenderung berjuang demi mempertahankan hidup sendiri. Jangankan bisa mengakui bahwa kepunyaannya adalah milik bersama, milik orang lain bahkan sering diklaim dan dituntut sebagai milik sendiri! Konflik ada di mana-mana. Bukan hanya rebutan wilayah negara dan daerah, rebutan harta antaranggota keluarga pun terjadi, bahkan menjadi perkara di pengadilan sampai penghilangan nyawa.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa ketika manusia bertindak secara individual, ia cenderung mengesampingkan kepentingan komunal. Ini merupakan pengingkaran terhadap hakikat diri manusia sebagai makhluk sosial. Sejak berada dalam kandungan, manusia tidak pernah sendirian. Ia selalu bersama dengan manusia lainnya.

Yesus juga tidak pernah berjalan atau bekerja sendirian, meskipun tentu saja Ia mampu menyelesaikan semuanya tanpa bantuan siapa pun. Ia selalu melibatkan para murid, berjalan bersama mereka, serta berbagi tugas. Ia pun berpesan agar para murid pergi berdua-dua mewartakan Kabar Gembira. Bahkan misi-Nya pun bertujuan komunal, yakni penebusan dan penyelamatan seluruh umat manusia.

Individualitas penting ketika kita berusaha mengenal diri kita sendiri sebagai manusia yang memiliki karakteristik berbeda dengan yang lainnya. Manusia yang mengenali dirinya sendiri akan mampu memahami emosi dan pikirannya, tahu apa kebutuhannya, serta mampu menjadi individu yang utuh dan mandiri dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri tanpa dipengaruhi orang lain.

Namun, individualitas hanyalah satu sisi pada manusia. Di sisi lain, manusia adalah makhluk sosial. Ada ketergantungan atau ketidakterpisahan sosial. Manusia selalu berinteraksi dengan orang lain atau melakukan kerja sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Peran dalam kelompok juga akan menentukan identitasnya. Ada nilai-nilai dan kepemilikan bersama, serta dukungan komunal. Hal ini penting karena dukungan komunal menguatkan manusia dari rasa kesepian dan rasa tidak berdaya.

Ajaran Yesus dan kehidupan yang dipraktikkan para rasul mengajarkan nilai-nilai kehidupan sejati. Kita tidak pernah sendirian dalam hidup ini. Nilai itu perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang percaya bahwa tidak ada yang berkekurangan. Rasa takut akan kekurangan sering kali membuat manusia menjadi serakah dengan menimbun harta dan berusaha mengeksploitasi orang lain. Konsep milik bersama menjadi ancaman, bukan lagi harapan akan hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Ini semua karena sisi individualitas manusia menjadi dominan dalam usaha mencapai pemenuhan kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Ingat hakikat iman kristiani kita: Tanpa aspek komunal, kita tidak akan bisa mengikuti jejak dan ajaran Yesus.

Mari kembali berjalan bersama Yesus. Tanggalkan monopoli, tinggalkan eksploitasi. Hidup di dunia hanya sementara. Yang Tuhan janjikan adalah kehidupan kekal bagi setiap orang yang sungguh percaya kepada-Nya. 

Sumber: https://www.lbi.or.id/2026/04/14/tidak-ada-yang-berkekurangan/