Renungan Hari Rabu, 25 Februari 2026, Hari Rabu, Pekan I Prapaskah
weismeralda@gmail.com
24-Feb-2026 08:43:00
Renungan Hari Rabu, 25 Februari 2026, Hari Rabu, Pekan I Prapaskah
Bacaan 1: Yunus 3:1-10
Bacaan Injil: Lukas 11:29-32
Panggilan Kedua = Kesempatan Kedua
Ada seorang insiyur yang mendapat proyek membangun jembatan besar di kotanya. Karena kecerobohannya, struktur jembatan itu retak dan hampir runtuh. Melihat keadaan tersebut, pemilik proyek memberikan cetak biru baru dan berkata, “Tolong, segera perbaiki ini sebelum badai datang.” Keadaan ini, membuat insiyur tersebut segera memperbaiki dan bekerja siang dan malam tanpa mengeluh. Itulah yang terjadi dengan penduduk Niniwe. Yunus datang ke Niniwe dan menyerukan (Yunus 4), “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”, membuat mereka tidak banyak protes maupun berdebat tetapi langsung melakukan aksi nyata dengan puasa (ayat 7). Dari raja sampai ke ternak, mereka berkabung dan berpuasa. Mereka tidak menunggu mukjizat namun mereka mendengar kebenaran dan langsung berbalik, melakukan pertobatan yang membawa keselamatan bagi mereka.
Sekarang kita beralih ke Injil Lukas 11:29-32 yang isinya teguran keras dari Yesus kepada orang-orang sejaman-Nya yang terus-menerus minta “tanda” atau mukjizat spektakuler baru mereka percaya. Yesus malah menjadikan “Niniwe”sebagai contoh yang patut diteladani, tidak sampai meminta tanda, hanya mendengar seruan Yunus, seisi kota langsung melakukan aksi nyata melakukan puasa.
Tanpa kita sadari, terkadang kita seperti orang-orang di jaman Yesus: mau bertobat jika doa dikabulkan; mau berubah kalau ada tanda-tanda ajaib yang muncul; bahkan merasa “siap” tapi ternyata “belum siap”. Bahkan Lukas didalam Injil hari ini mengemukakan, “Sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus!” (Lukas 11:32) menunjuk kepada Yesus, tetapi mereka tetap tidak menyadarinya.
Masa Prapaskah menjadi masa yang membawa kita pada penyadaran untuk bertobat. Realita pertobatan bukan dari seberapa hebatnya tangisan kita, tapi seberapa nyata perubahan diri maupun hidup kita kembali ke jalan-Nya. Belajar dari penduduk Niniwe yang bisa berbalik, melakukan pertobatan dengan puasa hanya dengan mendengar seruan singkat Yunus, terlebih kita yang setiap hari atau hari rabu mendengar Injil, warta gembira Tuhan, hendaklah kita tidak mengeraskan hati kita untuk bertobat, kembalilah kepada Yesus Kristus, berjalan dijalan-Nya bersama dengan-Nya.
Pertobatan sejati dengan mengakui hidup kita sedang “retak” dan memerlukan Sang Arsitek Agung (Yesus Kristus) untuk memperbaikinya. Jangan menunggu tanda dari langit untuk bisa mengampuni, jujur, berdoa, berpuasa mati raga. Tuhan sudah memberikan tanda itu kepada kita melalui Firman Tuhan. Mari kita jadikan masa Prapaskah ini sebagai “kesempatan kedua” untuk kita melepaskan kesombongan, keegoisan, manusia lama kita. Tanggalkan “pakaian kebesaran” ego kita dan berbaliklah kepada Tuhan Yesus dengan hati yang hancur, Tuhan pasti tidak akan menolak hati yang menyesal dan Tuhan pasti membuka kedua tangan-Nya untuk merengkuh kita dalam pelukan erat kasih-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.
Doa singkat: Allah Tritunggal Mahakudus, kami bersyukur untuk masa Prapaskah pertama yang membawa kami pada perjalanan Retret Agung bersama dengan-Mu. Kami undang Allah Tritunggal Mahakudus untuk membimbing, menemani dan memberkati perjalanan kami dalam masa Prapaskah ini untuk mengarahkan hati kami pada pertobatan dan menjadi manusia baru sesuai dan seturut dengan kehendak-Mu. Mari Tuhan Yesus, gandeng tangan kami dalam perjalanan hidup kami di sepanjang hari ini. Doa ini Tuhan, kami persembahkan ke dalam tangan kasih-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, Amin.
